Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2012

pembelajaran adalah perubahan


Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa terjadi semacam "dialog batin" di dalam diri kita? Bagai­mana kita dapat merasakan bahwa ada dua macam "wajah" di dalam diri kita yang saling pandang dan mengungkapkan pandangannya? Bagaimana peng­alaman terbentuk? Apakah pengalaman yang membuat diri seseorang naik dari satu lapisan ke satu lapisan dera­jat yang lebih tinggi dikarenakan oleh "dialog batin" yang instens itu?
Apa sesungguhnya "dialog batin" itu? Apakah semua orang mengalami­nya? Apakah jika "dialog batin" itu benar-benar terjadi pada setiap orang, lantas berlangsungnya itu setiap hari, setiap menit, atau bah­kan setiap detik? Bagaimana cara mendeteksi semua ini ? Bagaimana seseorang dapat mengetahui bahwa "dialog batin"-nya senantiasa berlangsung hebat dan bermanfaat bagi pertumbuhan dirinya?
Ada sebuah rumusan yang bagus dari Dave Meier berkaitan dengan soal-soal yang tidak gampang kita sepakati ini. Meskipun rumusan Meier ini tidak langsung menuju sasarannya, namun, saya rasa, pandangan Meier ini dapat memberikan semacam pijakan untuk mende­teksi lebih jauh tentang "dialog batin". Lewat rumusan Meier, yang sebentar lagi akan kita baca, tampak bahwa hampir semua yang sedang kita bicarakan ini—dan juga apa yang disinggung oleh pernyataan Ignas Kleden : berpusat pada satu kata: pembelajaran (learning).
"Penelitian mengenai otak dan kaitannya dengan pembelajaran telah mengungkapkan fakta yang sangat mengejutkan. Jika sesuatu dipelajari dengan sungguh­-sungguh, struktur internal sistem saraf kimiawi (atau elektris) seseorang pun berubah. Sesuatu yang baru ter­cipta di dalam diri seseorang—jaringan saraf baru, jalur elektris baru, asosiasi baru, dan hubungan baru," tulis Meier.
Nah, rumusan Meier tak hanya berhenti di situ. Meier kemudian memberikan kata-kata kunci yang layak kita perhatikan secara saksama, "Dalam proses pembelajaran,
para pembelajar harus diberi waktu agar hal-hal baru ini betul-betul terjadi dikedalaman dirinya. Jika tidak, tentu saja takkan ada yang melekat. Juga tak ada yang menyatu dan tak ada yang benar-benar dipelajari. Pembelajaran adalah perubahan. Jika tak ada waktu untuk berubah, berarti tak ada pembelajaran yang sejati.
Dialog batin“ atau dialog-internal yang mungkin dijalani oleh seseorang, dalam tempo yang lama dan panjang, adalah sebuah pembelajaran. Hingga disini, dapat dikatakan bahwa diri yang berilmu adalah diri yang terus melakukan koreksi, instropeksi, dan perubahan diri. Tentu, perubahan diri yang terjadi adalah perubahan diri yang menarik. Bisa jadi, diri yang berubah, diri yang berilmu itu, mengalami dialog internal yang naik-turun. Namun, proses naik turun (up and down) itu berada pada area yang menanjak.
Secara fisik, ada kemungkinan kita dapat mengetahui diri kita berubah. Sakit dan sehat adalah bukti adanya perubahan diri dalam konteks fisik. Pada suatu saat diri kita mengalami kesegaran luar biasa. Namun, pada lain saat, diri kita mengalami kelelahan luar biasa. Kesegaran di satu pihak dan kelelahan di lain pihak inilah yang menunjukkan adanya dialog-internal di dalam diri kita yang terus berubah. Lewat proses sakit-sehat, sehat-sakit, dan seterusnya, tentulah diri kita yang bersifat fisik ini akan mengalami perubahan.
Nah, berkaitan dengan diri yang berilmu, ingin saya memakai sakit-sehat itu dalam konteks tahu dan tidak tahu atau memahami dan tidak memahami. Lebih tegas lagi, jika soal tahu dan tidak tahu dikaitkan dengan apa­kah sebuah dialog-internal kemudian melahirkan sebuah hasil yang nyata dalam bentuk sebuah diri yang berkem­bang, maka kits perlu mengganti konsep memahami dan tidak memahami dengan "menguasai dan tidak me­nguasai".{}

Jumat, 13 Januari 2012

tahapan dalam pendidikan anak

Abdullah Nashih mengemukakan ada tiga tahapan dalam pendidikan anak.
Pertama adalah al qudwah atau contoh teladan.
Anak yang diibaratkan sebagai kertas yang masih polos hanya tinggal diwarnai oleh kita sendiri dengan apa yang kita contohkan kepada mereka. Anak ibarat mesin fotokopi yang meniru dan meniru. Maka berilah mereka contoh yang baik. Dari keseharian kita baik ucapan, penampilan dan tingkah laku akan mempengaruhi mereka. Dan berilah mereka teladan yang baik dengan mengenalkan mereka kepada sosok Rasulullah, karena dalam diri Rasul terdapat teladan yang baik. Ceritakan kepada mereka kisah-kisah Nabi, sahabat yang penuh dengan sifat yang bisa ditiru. Maka sebagai guru TPA kita harus mengusai materi, pandai bercerita dan pandai menyanyi untuk menarik perhatian anak.
Kedua adalah al adha atau pembiasaan yang baik.
Kebanyakan orang hafal atau terbiasa melakukan sesuatu itu ketika masih kecil sudah dibiasakan untuk menghafal atau melakukan sesuatu. Karena kebiasaan sejak kecil lebih dapat terekam dengan baik. Maka biasakanlah anak-anak kita dengan kebiasaan yang baik sesuai dengan contoh teladan. Banyak ulama–ulama besar yang menguasai ilmunya ketika masih kecil dan saat dewasa hanya tinggal menambah dan memperdalam. Berbeda dengan ketika orang sudah dewasa baru menuntut ilmu, akan lebih sulit untuk memahami ilmu tersebut.
Ketiga adalah al mauidhoh atau pemahaman.
Beri mereka pemahaman atau alasan ketika anak harus melakukan atau dilarang melakukan suatu hal. Karena dengan alasan dan pemahaman anak akan mengerti.
Keempat adalah al mukhaladhoh atau pengamatan.
Kita harus tahu potensi yang dimiliki oleh setiap anak dan menggali serta mengembangkan potensi tersebut ke arah yang baik. Dan terakhir adalah al uqubah atau hukuman. Bila anak melakukan kesalahan beri mereka hukuman yang mendidik dan mendewasakan.
Ust. Drs. H. Waharjani, M.

Mengajar Anak dengan Indah

Dunia anak-anak adalah dunia permainan yang penuh dengan tawa, canda dan hal-halyang menyenangkan. Untuk itu dalam mengajar anak-anak TPA/TPQ haruslah dengan cara menyenangkan, indah karena anak-anak menyukai sesuatu yang menyenangkan, tidak bosan dan indah. Misalnya dengan tepuk-tepuk, nyanyian, cerita dan permainan.
Dalam mengajar doa harian pun diusahakan dengan cara yang menyenangkan, misalnya dikenalkan doa dengan irama Nahwn, Ross dan Hijjaz.
Indah dalam pengajaran bisa juga dimulai dari busana atau pakaian. Seorang ustadz-ustadzah haruslah memakai pakaian yang rapi, pantas, indah dan wangi. Jangan memakai pakaian kaos, pakaian yang bau atau usang dan berantakan. Bisa memakai baju batik, baju muslim dan berkopyah atau berjilbab. Bercelana pantas atau bersarung. Jangan memakai training atau jeans. Karena pakaian yang dikenakan oleh orang bisa mewakili sikap orang tersebut.
Jangan lupa untuk selalu melakukan prinsip 5S (senyum, sapa, salam, sopan, santun). Berikan santri-santri kita senyuman yang manis. Santri akan merasa dekat dan disayangi. Ditambah dengan sapaan yang baik, menanyakan kabar atau keadaan. Hal-hal di sekolah dan lain sebagainya. Santri-santri akan merasa diperhatikan. Salamilah santri dengan ucapan ‘assalamualaikum’ yang berarti kita mendoakan mereka. Sambil menjabat tangan mereka dan memegang pundak dan mengelus kepala mereka. Serta bersikap sopan serta santun dengan perkataan dan perbuatan baik. Kita sebagai contoh bagi mereka. Berilah mereka contoh yang baik, karena anak-anak mudah sekali meniru apa yang ada di dekat mereka.


JANGAN PERNAH MENGAJAR KALAU ANDA SUDAH BERHENTI BELAJAR.

Sahabat TPQ...

Orang kadang beranggapan kalau sudah jadi pengajar seperti guru maka ia berhenti belajar.
Seorang belajar adalah kewajiban murid bukan untuk guru.
Padahal guru dan murid sama-sama manusia
yang memiliki kewajiban belajar
sehingga praktek mengajar bukan final dari tahapan seseorang yang sedang belajar.
Belajar adalah sikap hidup, sementara mengajar adalah pengabdian.

Di Universitas Kehidupan, belajar tidak mengenal ruang dan waktu,
beberapa situasi dapat saja kita petik pelajaran dan hikmahnya.
Dibawah ini adalah beberapa situasi yang memungkinkan kita bisa mengambil pelajaran
yang saya rangkum dari berbagai sumber.

Saya belajar,
Bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya.
Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai...

Saya belajar,
Walaupun saya selalu memberikan kepedulian yang besar kepada setiap orang,
tapi tidak semua orang akan memberikan kepedulian yang sama kepada Saya.

Saya belajar,
Bahwa butuh waktu bertahun - tahun untuk membangun kepercayaan.
Dan beberapa detik saja untuk menghancurkannya

Saya belajar,
Bahwa bukan apa yang saya punya
tetapi Siapa yang saya punya adalah yang terpenting dalam kehidupan saya.

Saya belajar,
Bahwa orang yang saya kira jahat,
adalah orang yang membangkitkan semangat hidup saya serta begitu perhatian..

Saya belajar,
Bahwa seharusnya tidak selalu membandingkan diri saya
dengan yang yang terbaik dalam bidangnya.

Saya belajar,
Bahwa sahabat terbaik saya dapat melakukan banyak hal
dan kami selalu memiliki waktu yang terbaik.

Saya belajar,
Bahwa Saya dapat melakukan jauh lebih baik
setelah saya tidak bisa melakukannya.

Saya belajar,
Bahwa Saya mengendalikan sikap saya
atau sebaliknya ia yang mengendalikan saya.

Saya belajar,
Bahwa pahlawan adalah orang yang melakukan apa yang harus dilakukan
ketika hal itu dibutuhkan, apapun konsekuensinya

Saya belajar,
Bahwa uang adalah cara terburuk untuk mempertahankan sesuatu

Saya belajar,
Bahwa kedewasaan lebih banyak kaitannya dengan jenis pengalaman yang kita punya
dan apa yang sudah kita pelajari darinya
dan bukan dengan berapa kali kita merayakan ulang tahun.

Saya belajar,
Bahwa tak peduli seberapa baik seorang teman berlaku kepada kita,
dia akan sesekali menyaiti kita, dan kita harus memaafkannya.

Saya belajar,
Bahwa terkadang tidak cukup untuk dimaafkan oleh orang lain.
Terkadang kita harus belajar untuk memaafkan diri sendiri.

Saya belajar,
Bahwa walapun keadaan hati saya sangat parah,
dunia tidak akan berhenti karena kesedihan saya itu.

Saya belajar,
Bahwa latar belakang dan keadaan kita bisa jadi yang telah menjadikan kita siapa kita,
tetapi kitalah yang harus bertanggungjawab atas diri kita.

Saya belajar,
Bahwa hanya karena dua orang bertengkar, bukan berarti mereka tidak saling mencintai;
sebaliknya, hanya karena mereka tidak bertengkar bukan berarti mereka saling mencintai.

Saya belajar,
Bahwa Kita tidak harus berganti teman
jika kita paham bahwa teman akan selalu berubah.

Saya belajar,
Bahwa kita tidak seharusnya terlalu bernafsu menemukan suatu rahasia
karena ia dapat mengubah hidup kita selamanya.

Saya belajar,
Bahwa dua orang dapat melihat sesuatu dengan penglihatan yang sama persis;
demikian pula sebaliknya, dua orang mungkin melihat sesuatu dengan penglihatan yang benar-benar beda.

Saya belajar,
Bahwa sahabat sejati senantiasa bertumbuh walau dipisahkan jarak dan waktu.
Dan beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati.

Saya belajar,
Bahwa saya dapat melakukan banyak hal secara instan (tanpa banyak pertimbangan)
tetapi itu akan mendatangkan kesedihan dalam kehidupan saya.

Saya belajar,
Bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian seperti yang saya inginkan,
bukan berarti dia tidak mencintai saya.

Saya belajar,
Bahwa sebaik baik pasangan mereka pasti pernah melukai perasaannya.
Dan untuk itu kita harus mema'afkan....

Saya belajar,
Bahwa saya harus mengampuni diri sendiri dan orang lain
kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus menerus.

Saya belajar,
Bahwa saya tidak dapat merubah seorang yang saya sayangi,
melainkan bergantung pada diri mereka sendiri.
Dan saya hanya bisa merubah diri saya sendiri.

Saya belajar,
Bahwa kata - kata manis tanpa tindakan
adalah saat perpisahan dengan orang yang saya cintai....

Saya belajar,
Bahwa orang - orang yang sangat saya cintai dan kasihi
justru sering diambil duluan dari kehidupan saya.

Saya belajar,
Bahwa Saya membutuhkan waktu
untuk menjadi orang yang saya inginkan

pengaruh nama pada anak

dakwatuna.com - Para ahli sosiologi berpendapat bahwa nama yang berikan orangtua kepada anaknya akan mempengaruhi kepribadian, kemampuan anak dalam berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana cara orang menilai diri si pemilik nama.
Banyak alasan dan pertimbangan para orangtua dalam memilihkan nama anak. Ada yang menyukai anaknya memiliki nama yang unik dan tidak ‘pasaran’. Mungkin mereka tidak suka membayangkan ketika nama anaknya dipanggil di depan kelas, ternyata ada lima orang anak yang maju karena kebetulan namanya sama. Ada yang lebih suka anaknya memiliki nama yang singkat dan mudah diingat. Orangtua seperti ini akan beralasan, “Toh nanti anakku akan dipanggil dengan nama bapaknya di elakang namanya.” Walaupun pernah kejadian orang Indonesia yang diharuskan mengisi suatu formulir di negara Eropa agak kebingungan karena diharuskan mengisi kolom nama keluarga. Padahal sebagaimana juga kebanyakan orang Indonesia, nama yang ada di kartu indentitasnya hanya nama tunggal, tanpa nama keluarga atau bin/binti.
Beberapa orangtua lain memilihkan nama yang megah untuk buah hati mereka. Sementara bagi kalangan tertentu ada kepercayaan jika anak ‘keberatan nama’ nanti bisa sakit-sakitan. Sebagian orang ada yang menganggap nama sebagai sesuatu yang biasa, sekedar identitas yang membedakan seseorang dengan yang lain. Ada lagi yang memilihkan nama untuk anaknya berdasarkan rasa penghargaan terhadap seseorang yang dianggap telah berjasa atau dikagumi. “As a tribute to,” demikian alasannya.
Sebagai orangtua, kita perlu tahu makna dari sebuah nama dan mempertimbangkan yang terbaik untuk anak kita. Bayangkan bahwa anak kita akan menyandang nama tersebut sejak tertulis di akte kelahiran, hingga di hari akhir nanti.
Bagi umat muslim, nama adalah doa yang berisi harapan masa depan si pemilik nama. Para calon orang tua yang peduli tidak hanya berusaha memilih nama yang indah bagi anaknya, tapi juga nama yang memiliki arti yang baik dan memberikan dampak atau sugesti kebaikan bagi anak. Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam buku Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam menyebutkan beberapa hal penting tentang pemberian nama kepada anak.
Menurut beliau kita para orangtua hendaknya:
1. Memberikan nama segera setelah bayi dilahirkan. Lamanya berkisar antara sehari hingga tujuh hari setelah dilahirkan. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Tadi malam telah lahir seorang anakku. Kemudian aku menamakannya dengan nama Abu Ibrahim.” (Muslim).
Dari Ashhabus-Sunan dari Samirah, Rasulullah saw. bersabda, “Setiap anak itu digadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan (binatang) baginya pada hari ketujuh (dari hari kelahiran)nya, diberi nama, dan dicukur kepalanya pada hari itu.”
2. Memperhatikan petunjuk pemberian nama, dengan mengatahui nama-nama yang disukai dan dibenci. Ada pun nama-nama yang dianjurkan Rasulullah saw. adalah:

  • Nama-nama yang baik dan indah. Rasulullah saw. menganjurk, “Sesungguhnya pada hari kiamat nanti kamu sekalian akan dipanggil dengan nama-nama kamu sekalian dan nama-nam bapak-bapak kamu sekalian. Oleh karena itu, buatlah nama-nama yang baik untuk kamu sekalian.”
  • Nama-nama yang paling disukai Allah yaitu Abdullah dan Abdurrahman.
  • Nama-nama para nabi seperti Muhammad, Ibrahim, Yusuf, dan lain-lain.
Sedangkan nama-nama yang sebaiknya dihindari adalah:
  • Nama-nama yang dapat mengotori kehormatan, menjadi bahan celaan atau cemoohan orang.
  • Nama yang berasal dari kata-kata yang mengandung makna pesimis atau negatif.
  • Nama-nama yang khusus bagi Allah swt. seperti Al-Ahad, Ash-Shamad, Al-Khaliq, dan lain-lain.
Pengaruh nama pada anak
Orangtua seharusnya berusaha memberikan sebutan nama yang baik, indah dan disenangi anak, karena nama seperti itu dapat membuat mereka memiliki kepribadian yang baik, memumbuhkan rasa cinta dan menghormati diri sendiri. Kemudian mereka kelak akan terbiasa dengan akhlak yang mulia saat berinteraksi dengan orang-orang disekelilingnya.
Anak juga perlu mengetahui dan paham tentang arti namanya. Pemahaman yang baik terhadap nama mereka akan menimbulkan perasaan memiliki, perasaan nyaman, bangga dan perasaan bahwa dirinya berharga.
Bagi lingkungan keluarga, adalah hal yang penting untuk menjaga agar nama anak-anak mereka disebut dan diucapkan dengan baik pula. Sebab ada kebiasaan dalam masyarakat kita yang suka mengubah nama anak dengan panggilan, julukan, atau nama kecil. Sayangnya nama panggilan ini terkadang malah mengacaukan nama aslinya. Nama panggilan ini kadang selain tidak bermakna kebaikan juga bisa mengandung pelecehan. Hal ini kadang terjadi karena nama anak terlalu sulit dilafalkan, baik oleh orang-orang disekitarnya bahkan bagi sang anak sendiri.
Nama yang terdiri dari tiga suku kata atau lebih akan membuat orang menyingkat nama tersebut menjadi satu atau dua suku kata. Misalnya Muthmainah akan disingkat menjadi Muti atau Ina. Sedangkan nama yang memiliki huruf ‘R’ biasanya akan lebih sulit dilafalkan anak yang cenderung cedal pada usia balita. Maka nama-nama seperti Rofiq (yang artinya kawan akrab) akan dilafalkan menjadi Opik, nama Raudah (taman) dilafalkan menjadi Auda.
Nama yang unik dan berbeda apalagi megah, mungkin memiliki keuntungan tersendiri. Namun nama yang demikian dapat menyebabkan beberapa masalah. Nama yang sulit diucapkan dapat membuat orang-orang sering salah mengucapkan atau menuliskannya. Ada suatu penelitian yang menunjukkan bahwa orang sering memberikan penilaian negatif pada seseorang yang memiliki nama yang aneh atau tidak biasa. Dr. Albert Mehrabian, PhD. melakukan penelitian tentang bagaimana sebuah nama mengubah persepsi orang lain tentang moral, keceriaan, kesuksesan, bahkan maskulinitas dan feminitas. Dalam pergaulan anak yang memiliki nama yang tidak biasa mungkin akan mengalami masa-masa diledek atau diganggu oleh teman-temannya karena namanya dianggap aneh. Pernah mendengar ada seseorang yang bernama Rahayu ternyata seorang laki-laki?
Jika ingin menamai anak dengan nama orang lain, ada baiknya memilih nama orang yang sudah meninggal dunia dan telah terbukti kebaikannya. Jika orang tersebut masih hidup, dikuatirkan suatu saat orang tersebut berubah atau mengalami kehidupan yang tercela. Sudah banyak contoh orang-orang yang pada sebagian hidupnya dianggap sebagai orang besar, ternyata di kemudian hari atau di akhir hayatnya digolongkan sebagai orang yang banyak dicela masyarakat. Kita harus menjaga jangan sampai anak kita menanggung malu karena suatu saat dirinya diasosiasikan dengan orang yang tidak baik.
Beruntunglah kita, karena di Indonesia nama-nama Islami sangat biasa dan banyak. Sehingga tidak ada alasan merasa malu atau aneh memiliki nama yang Islami. Hanya saja mungkin dari segi kepraktisan perlu dipertimbangkan nama anak yang cukup mudah diucapkan, tidak terlalu pasaran tapi tidak aneh, dan sebuah nama yang akan disandang anak kita dengan bangga sejak masa kanak-kanak hingga dewasa nanti. Wallahu alam.

Rabu, 21 Desember 2011

Hati-hati Menggunakan Otak Kiri dalam Beramal


Bedanya orang otak kiri dan otak kanan bisa dilihat dari cara mereka menghadapi hidup ini. Seperti kita ketahui otak kiri mengandung kecerdasan intelektual dan bersifat realistis. Sedangkan otak kanan berfungsi sebagai kecerdasan emosional dan merupakan alam bawah sadar manusia.

Beginilah jadinya, ketika manusia didominasi hanya menggunakan otak kiri saja. Selalu hitung-hitungan dalam beramal, terbukti dari kenyataan berikut ini:

1. Orang otak kiri lebih banyak meminta daripada bersyukur, sedangkan orang otak kanan lebih banyak bersyukur daripada meminta.

2. Orang otak kiri meminta dulu, kalau terkabul, baru bersyukur, sedangkan orang otak kanan bersyukur dulu, baru meminta, terkabul atau tidak, tetap bersyukur.

3. Orang otak kiri mengeluh ketika keadaan sakit/sulit/rugi atau ditipu, sedangkan orang otak kanan Tetap tersenyum walaupun keadaan sakit/sulit/rugi atau ditipu.

4. Orang otak kiri mapan dulu, baru menikah dan berbakti pada orang tua, sedangkan orang otak kanan mapan atau tidak, tetap menikah dan tetap berbakti pada oang tua.

5. Orang otak kiri kaya dengan berhemat dan menabung, sedangkan orang otak kanan kaya dengan sedekah dan berdagang.

6. Orang otak kiri merasa berdosa dulu, baru bertaubat, sedangkan orang otak kanan senantiasa bertaubat.

Semoga bermanfaat, latihlah otak kanan kita ya Sobat

Selasa, 13 Desember 2011

ETIKA TIDUR

Orang Muslim berkeyakinan bahwa tidur adalah salah satu nikmat yang diberikan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya dalam firman-firman-Nya berikut: 
“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untuk kalian malam dan siang, supaya kalian beristirahat pada malam itu dan supaya kalian mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kalian bersyukur kepada-Nya.” (Al-Qashash: 73)
“Dan Kami jadikan tidur kalian untuk istirahat.” (An-Naba: 9)
Itu karena istirahat seseorang beberapa jam pada waktu malam setelah seharian bergerak itu membantu kesegaran badan, kelangsungan perkembangan dan aktifitasnya, agar dengan itu semua ia dapat menunaikan tugas yang diciptakan Allah Ta‘ala untuknya.
Mensyukuri nikmat-nikmat itu menghendaki orang Muslim menerapkan etika-etika berikut dalam tidurnya:
Ia tidak menunda tidur setelah shalat Isya’ kecuali untuk keperluan seperti belajar, atau bicara dengan tamu, atau bercumbu dengan istri, karena Abu Barazah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. tidak menyukai tidur sebelum shalat Isya’, dan ngobrol sesudahnya. (Muttafaq Alaih).
Ia berusaha tidak tidur kecuali dalam keadaan berwudlu, karena Rasulullah saw. bersabda kepada Al-Barra’ bin Azib,
“Jika engkau akan pergi ke tempat tidurmu, hendaklah engkau berwudlu seperti wudhu untuk shalat.” (Muttafaq Alaih).
Ia memulai tidur dengan di atas lambung kanannya (miring ke kanan), berbantal tangan kanannya, dan tidak apa-apa kalau ingin berubah posisi dengan tidur di atas lambung kirinya setelah itu karena dalil-dalil berikut:
Sabda Rasulullah saw. kepada Al-Barra’ bin Azib, “Jika engkau akan pergi ke tempat tidurmu, hendaklah engkau berwudlu seperti wudhu untuk shalat, kemudian tidurlah d atas lambung kananmu.” (Muttafaq Alaih).
Sabda Rasulullah saw., “Jika engkau akan pergi ke ranjangmu (tidur) dalam keadaan suci maka dengan tangan kananmu.”
Ia tidak tidur dalam keadaan telungkup, baik tidur di siang hari atau malam hari, karena dalil-dalil berikut:
Sabda Rasulullah saw.,
“Sungguhnya tidur dengan telungkup adalah tidurnya penghuni neraka.”
“Sesungguhnya tidur dengan telungkup ialah tidur yang tidak disukai Allah Azza wa Jalla.”
Ia mengucapkan dzikir-dzikir berikut:
“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, dan Allah Mahabesar.”
Ia mengucapkannya tiga puluh tiga kali, kemudian ia berkata, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi Allah kerajaan, dan pujian. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Ia berbuat seperti itu, karena Rasulullah SAW. bersabda kepada Ali bin Abu Thalib dan Fathimah yang meminta pembantu kepada beliau, “Maukah kalian berdua aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian berdua minta? Kalian berdua hendak tidur, bacalah tasbih sebanyak tiga puluh kali, bacalah hamdalah sebanyak tiga puluh tiga kali, dan bacalah takbir sebanyak tiga puluh empat kali. Itu semua lebih baik bagi kalian berdua dari pada pembantu. (Diriwayatkan Muslim)
Ia membaca surat Al-Fatihah, lima ayat pertama surat Al-Baqarah, ayat kursi, dan surat Al-Baqarah ayat 284-285, karena itu dianjurkan Rasulullah saw.
Doa terakhir yang dibaca ialah doa berikut yang diriwayatkan dari Rasulullah saw., “Dengan nama-Mu ya Allah, aku letakkan lambungku, dan dengan nama-Mu aku mengangkatnya kembali. Ya Allah, jika Engkau menahan jiwaku, ampunilah dia. Dan jika Engkau mengirimnya kembali, jagalah dia sebagaimana Engkau menjaga orang-orang shalih diantara hamba-hamba-Mu, Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku limpahkan segala urusanku kepada-Mu, aku sandarkan tulang punggungku kepada-Mu. aku meminta ampunan kepada-Mu, aku bertahubat kepada-Mu, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus, ampunilah apa yang telah aku kerjakan apa yang aku umumkan, serta apa saja yang lebih Engkau ketahui daripada aku. Engkau Dzat Yang Maha Terdahulu dan Maha Terakhir. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Tuhanku, jagalah aku dari siksa-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.” (Diriwayatkan Abu Daud dan lain-lain dengan sanad yang shahih).
Jika ia terbangun di sela-sela tidurnya, ia membaca doa berikut, “Tidaklah ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu . Mahasuci Allah, segala pujian bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Mahabesar, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah.”
Setelah itu, ia bebas berdoa apa saja, karena Rasulullah saw., “Barangsiapa bangun dan tidurnya kemudian ia berkata, ‘Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Muhasuci Allah, segala pujian bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali dengan Allah Maha besar, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah.’Kemudian ia berkata, Ya Allah ampunilah aku. ‘Atau ia berdoa dengan doa lain, maka doanya dikabulkan. Jika ia berdiri kemudian berwudlu dan shalat maka shalatnya diterima “(Diriwayatkan Al-Bukhari).
Atau ia berdoa dengan doa berikut, “Ya Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Mahasuci. Ya Allah, aku meminta ampunan kepada-Mu atas dosaku, dan meminta rahmat-Mu kepada-Mu. Ya Allah, tambahilah ilmuku, jangan palingkan hatiku setelah engkau memberinya petunjuk, dan beri aku rahmat dari sisi-Mu, karena Engkau Maha Pemberi nikmat.”
Pada pagi harinya, ia membaca dzikir-dzikir berikut:
a.    Ketika ia bangun tidur, dan sebelum berdiri dari tempat tidurya, ia membaca, “Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah sebelumnya mematikan kami dan kami akan kembali kepada-Nya.”
b.    Ia hadapkan pandangannya ke langit sambil membaca surat Ali Imran ayat 190-200 jika ia bangun untuk shalat tahajjud, karena Ibnu Abbas ra berkata, “Ketika aku bermalam di rumah bibiku dari jalur ibu, Maimunah istri Rasulullah SAW., bangun tidur pada pertengahan malam, atau beberapa saat setelah pertengahan malam, kemudlan beliau mengusap tidur dari wajahnya dengan tangannya, membaca sepuluh ayat terakhir, surat Ali Imran, berjalan ke tempat air yang menggantung, berwudlu dengan airnya dengan wudlu yang baik, dan berdiri untuk shalat “(Diriwayatkart Al-Bukhari).
c.    Membaca doa berikut sebanyak empat kali, “Ya Allah, aku berada di pagi hari dengan memuji-Mu, disaksikan oleh-Mu, disaksikan oleh malaikat-malaikat pemikul Arasy-Mu, disaksikan oleh malaikat-malaikat-Mu, dan disaksikan oleh semua makhluk-Mu bahwa Engkau Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Mu dan utusan-Mu.
Ia berdoa seperti itu, karena Rasulullah SAW. bersabda, “Barangsiapa mengucapkan doa di atas sebanyak sekali maka Allah membebaskan seperempat dirinya dari neraka, barangsiapa mengucapkannya dua kali maka Allah membebaskan setengah dirinya dari neraka, barangsiapa mengucapkannya tiga kali maka Allah membebaskan tiga perempat dirinya dari neraka, dan jika diucapkan empat kali maka Allah membebaskannya total dari neraka.” (Diriwayatkan Abu Daud dengan sanad shahih).
d.    Jika ia meletakkan kakinya di depan pintu kamar untuk keluar, ia berdoa dengan doa berikut, “Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.”
Karena Rasulullah saw. bersabda, “Jika seorang hamba mengucapkan doa di atas, maka dikatakan kepadanya, Engkau telah mendapatkan petunjuk dan dilindungi.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia meng-hasan-kannya).
e.    Jika ja meninggalkan pintu kamar, ia berdoa dengan doa berikut, “Ya Allah, aku berlindung diri kepada-Mu dari tersesat dan sesaatkan, tergelincir dan digelincirkan, menzhalimi atau dizhalimi, bodoh atau dibodohi.”
Karena Ummu Salamah ra berkata, Rasulullah saw. tidak pernah keluar dari rumahku melainkan ia mengangkat pandanganya ke langit sambil berkata, Ya Allah, aku berlindung diri kepada-Mu dari tersesat dan disesatkan.”
Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 210-216.

Kamis, 08 Desember 2011

sesama muslim bersaudara lho....

Pernahkan kita mendengar hadist-hadist mengenai adab sesama muslim?

Bagaimana cara ‘hidup lebih baik’ dengan membina hubungan yang baik dengan orang lain di sekitarnya, itu adalah fokus bahasannya. Bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain, mengasah kepekaan emosional, bertoleransi, selalu bersikap positif, tips-tips cara mendapat dan mempengaruhi teman , cara berkomunikasi yang baik, dengan think win-win, memahami lebih dahulu, maupun bersinergi.

Bagaimana cara ‘hidup lebih baik’ dengan membina hubungan yang baik dengan orang lain di sekitarnya

Menariknya, Islam sebagai agama yang sempurna, sudah mengajarkan semua itu, dengan Rasulullah saw sebagai model utamanya. Innama bu’itstu liutammima makaarimal akhlaq, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq, demikian sabda Rasulullah saw. Akhlaq dalam seluruh bidang kehidupan, bagaimana berinteraksi dengan orang tua, dengan sanak keluarga, dengan tetangga, dan seterusnya.

Nah, berikut ini adalah tips-tips dari Rasulullah saw bagaimana cara berinteraksi dengan sesama muslim :

Pertama, mencintai muslim lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri.
”Tidak beriman salah seorang di antara kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim)

”Tidak beriman salah seorang di antara kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim)

Kedua, menyukai apa yang disukai muslim lain sebagaimana dirinya menyukai apa yang dia sukai, dan membenci apa yang dibenci muslim lain sebagaimana dirinya membenci apa yang dia benci.
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang dengan sesama mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan baik (sakit) demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari-Muslim)

Ketiga, tidak menyakiti muslim lain dengan perbuatan atau perkataan.
”Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Keempat, bersikap tawadhu kepada setiap muslim dan tidak sombong kepadanya.
”Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku hendaklah kamu tawadhu sehingga tidak ada orang yang membanggakan diri kepada yang lain.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Maajah)

Kelima, tidak menyampaikan berita atau gunjingan kepada sebagian yang lain tentang apa yang didengarnya dari sebagian yang lain.
”Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Bukhari-Muslim)

Keenam, kalau marah, maka tidak boleh mengindarinya lebih dari tiga hari.
”Tidak boleh seorang muslim menghindari saudaranya lebih dari tiga hari, keduanya saling bertemu lalu saling berpaling. Sebaik-baik orang di antara keduanya adalah orang yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Bukhari-Muslim)

Ketujuh, melakukan kebaikan kepada setiap muslim semampunya dengan tidak membedakan antara keluarga dan yang bukan keluarga.
”Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah saw tidak pernah berbicara dengan seseorang melainkan beliau menghadapkan wajahnya ke wajah teman bicaranya lalu Rasulullah saw tidak akan berpaling dari wajah seseorang sebelum ia selesai berbicara.” (HR. ath-Thabrani)

Kedelapan, tidak masuk ke rumah muslim lain tanpa meminta izin, jika sampai tiga kali tidak diizinkan maka harus kembali.
”Meminta izin itu tiga kali. Yang pertama untuk menarik perhatian tuan rumah, kedua memperbaiki, dan ketiga agar memberi izin atau menolak.” (HR. Bukhari-Muslim)

Kesembilan, bersikap sopan kepada setiap muslim dengan akhlaq yang baik dan berinteraksi dengan mereka sesuai dengan keadaannya.
”Hindarilah api neraka sekalipun dengan separoh korma. Lalu siapa yang tidak memilikinya, maka dengan perkataan yang baik.” (HR. Bukhari-Muslim)

Kesepuluh, menghormati orang tua dan menyayangi anak-anak.
”Tidak termasuk dalam golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua dan tidak menyayangi anak kecil.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud)

Kesebelas, selalu memberikan kegembiraan, bermuka manis, dan bersikap lembut kepada semua muslim.
”Tahukah kamu kepada siapa api neraka diharamkan?” Para sahabat menjawab, ”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Lalu Nabi saw bersabda, ”Kepada orang yang lemah lembut, yang selalu memudahkan, dan selalu dekat (akrab)” (HR. Tirmidzi)

Kedua belas, janganlah berjanji kecuali bermaksud menepatinya.
”Tiga hal ada pada diri orang munafik, apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari-Muslim)

”Tiga hal ada pada diri orang munafik, apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari-Muslim)

Ketiga belas, bersikap adil dan tidak melakukan sesuatu kepada muslim lain kecuali apa yang ia sukai untuk diperlakukan kepada dirinya.
”Siapa yang ingin dijauhkan dari api neraka dan masuk surga maka hendaklah ia mati dalam keadaan bersaksi Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan hendaklah ia memperlakukan orang lain dengan sesuatu yang disukainya jika dilakukan pada dirinya.” (HR. Muslim)

Keempat belas, menghormati muslim lain yang penampilan dan pakaiannya menunjukkan kedudukannya sehingga dirinya bisa menempatkannya sesuai dengan kedudukannya.
”Apabila orang dimuliakan suatu kaum datang kepada kamu, maka muliakanlah ia.” (HR. al-Hakim)

Kelima belas, mendamaikan sesama muslim yang bersengketa jika menemukan jalan (penyelesaian) ke arah itu.
”Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kamu karena sesungguhnya Allah akan memperbaiki hubungan di antara orang-orang beriman di hari kiamat.” (HR. al-Hakim)

Keenam belas, menutupi aib setiap muslim.
”Siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

”Siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Ketujuh belas, menghindari tempat-tempat yang bisa mendatangkan tuduhan demi untuk menjaga hati orang lain agar tidak berburuk sangka dan juga untuk menjaga lidah mereka agar tidak menggunjing.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwasanya Rasulullah saw berbicara dengan salah seorang istrinya kemudian ada laki-laki lewat lalu dipanggil oleh Nabi saw seraya berkata, ”Ya Fulan, ini adalah istriku Shafiyyah.”

Kedelapan belas, memintakan bantuan bagi setiap muslim yang membutuhkan pada orang yang memiliki kedudukan dan berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya itu sesuai kemampuannya.
”Sesungguhnya aku diberi dan diminta. Sering dimintakan kepadaku kebutuhan-kebutuhan sedangkan kamu ada di sisiku, maka ikutlah memberi bantuan agar kamu diberi pahala dan Allah swt memutuskan apa yang dicintai-Nya melalui kedua tangan Nabi-Nya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Kesembilan belas, mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum berkata kepada muslim lain dan menjabat tangan ketika memberi salam itu.
”Jika salah seorang di antara kamu bertemu dengan saudaranya maka ucapkanlah, ’Assalamu’alaikum warahmatullah.’” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan an-Nasa’i)
”Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabatan tangan melainkan keduanya akan diampunkan (dosanya) sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kedua puluh, menjaga kehormatan jiwa dan harta saudaranya sesama muslim dari kezhaliman orang lain apabila dirinya mampu membela dan menolong serta mampu memperjuangkannya sebab itu merupakan kewajiban baginya.
”Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya maka ia akan terlindung dari api neraka.” (HR. Tirmidzi)

Kedua puluh satu, menjawab ucapan muslim lain yang bersin.
”Seorang muslim yang bersin dijawab jika ia bersin tiga kali dan jika (lebih dari tiga kali) maka itu adalah penyakit flu.” (HR. Abu Dawud)

Kedua puluh dua, memberi nasihat kepada setiap muslim dan bersungguh-sungguh ingin selalu memberikan kegembiraan ke dalam hati setiap muslim itu.
”Sesungguhnya salah seorang di antara kamu adalah cermin bagi saudaranya, jika ia melihat sesuatu (pada saudaranya) maka hendaklah ia membersihkannya.” (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Kedua puluh tiga, menjenguk muslim yang sakit.
”Siapa yang menjenguk orang sakit berarti ia duduk di taman-taman surga, sampai-sampai jika ia hendak berdiri, maka ditugaskan tujuh puluh ribu malaikat yang mendoakannya sampai malam hari.” (HR. al-Hakim)

Kedua puluh empat, mengantar (mengiringi) jenazah muslim yang meninggal.
”Barangsiapa yang mengantar jenazah maka akan mendapatkan pahala satu qirath. Jika ia berdiri sampai jenazah itu dikubur maka ia mendapatkan pahala dua qirath.” (HR. Bukhari-Muslim)
”Satu qirath seperti (berat/besarnya) bukit Uhud.” (HR. Muslim)

”Satu qirath seperti (berat/besarnya) bukit Uhud.” (HR. Muslim)

Kedua puluh lima, menziarahi kuburan muslim.
”Aku belum pernah melihat pemandangan yang lebih menakutkan dari kuburan.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Maajah, al-Hakim)

Maraji’/referensi: Tazkiyatun Nafs, Sa’id Hawwa

(Rojul/voa-islam.com)

Rabu, 07 Desember 2011

PERCAYAKAN BACAAN ALQUR'AN ANAK ANDA PADA PENGAJAR AL QUR'AN YG TERPERCAYA

     Tema tersebut sengaja saya angkat….sebagai renungan bagi kita para orang tua, tapi sebelum kita bahas lebih dalam. Ada beberapa pertanyaan, yang patut kita renungkan bersama, yakni sudah seriuskan kita memberikan pengajaran Al Qur’an pada anak kita dengan Pengajaran Al Qur’an yang terbaik ? Atau selama ini kita membekali anak-anak kita dengan menempatkan mereka di TPA/TPQ hanya berpikir yang penting ngaji?
       Jika kenyataannya demikian, maka cara pandang kita dalam membekali anak-anak kita dengan Al Qur’an hari ini, rasanya perlu untuk kita format ulang atau kita luruskan, jika pandang ini terus saja dipegang oleh kebanyakkan kaum muslimin saat ini, tentunya pengajaran Al Qur’an untuk anak kita tak akan menemukan kemajuannya. Bagaimana akan maju, jika pembekalli Al Qur’an untuk anak kita saja kita masih berpikir yang penting ngaji ? Padahal kita selaku muslim sangat menyakini dan menyadari bahwa tidak ada yang paling penting bagi kita sebagai seorang tua muslim dalam membekali anak-anak kita kecuali Al Qur’an.
Untuk itu, sudah saatnya kita hari ini meninggalkan pandangan “yang penting ngaji” menuju “ngajilah yang berkualitas” dan sudah waktunya pula saat ini kita berikan anak-anak kita dengan pengajaran Al Qur’an yang terbaik. Kalau selama ini kita hanya berfikir untuk anak kita yang penting ngaji, saat ini kita harus berfikir bagaimana anak kita bisa ngaji yang berkualitas. Jika dulu kita berpikir yang penting ikut TPA/TPQ masjid, kini saatnya kita rubah, bagaimana anak kita bisa ikut TPA/TPQ yang berkualitas dan dikelola dengan baik. Kalau dulu kita hanya pasrah pada pengajar TPA/TPQ masjid (yang terkadang hanya dibimbing oleh remaja masjidnya saja, yang tidak punya kemampuan dan ilmu dalam mengajarkan Al Qur’an) kini saatnya kita kembali pada pengajar Al Qur’an yan terpercaya…..
       Ya…….memberikan pengajaran Al Qur’an yang baik itulah kunci dari keberhasilan orang tua yang cerdas, yang tidak hanya berpikir sekedar ngaji atau sekedar ikut TPA/TPQ semata untuk buah hatinya, tapi ngaji yang berkualitas dan ikut TPA/TPQ yang baik pengelolaan dan sistemnya. Memberikan pengajaran Al Qur’an adalah tugas mulia para orang tua, terlebih lagi jika kita memberikan pengajaran Al Qur’an dengan mempercayakannya bancaan Al Qur’an anak anda pada pengajar Al Qur’an yang terpercaya……….Insya Allah kelelahan anda dalam memberikan doronngan, mengantar, menunggu anak belajar membaca Al Qur’an dinilai sebagai pahala di sisi Allah Swt., dan anda bukanlah orang tua yang rugi, sebab anak anda memiliki bekal Al Qur’an.
     Maka, bersungguh-sungguhlah mencari pengajar Al Qur’an yang terpercaya, kerahkan segenap kemampuan anda sebagai orang tua agar anak anda bisa belajar dengannya. Berjuanglah untuk buah hati anda, agar Al Qur’an kelak ada dalam hati anak-anak anda. Jika Al Qur’an telah ada dalam hati anda anda, jangan kuatirkan masa depan anak anda nantinya. Insya Allah, Allah akan menutun anak-anak kita menjadi generasi pilihan.
        Jangan tunda bekal Al Qur’an anak anda untuk menanti hari esok dan jangan menunggu anak anda besar. Segera carilah pengajar Al Qur’an yang terpercaya bacaannya, mumpung pengajar Al Qur’an yang memiliki bacaan yang sesuai dengan kaidah membaca Al Qur’an yang baik bisa kita temukan hari ini……
Pembaca sekalian, jika kita melihat dari sisi keuntungan dan manfaat yang akan kita dapatkan bagi para orang tua,  yang sejak dini menyerahkan bacaan Al Qur’an anak-anak mereka pada tenaga pengajar Al Qur’an yang terpercaya, sangatlah banyak, antara lain :
  1. Paling tidak kita telah menanamkan kaidah dan dasar membaca Al Qu’an yang benar sejak usia dini, walaupun pada proses pembelajarannya hanya baru bisa praktek membaca semata.
  2. Jika pengajar Al Qur’an anak kita bacaan Al Qur’annya terpercaya, maka secara otomatis anak-anak kita akan memiliki bacaan yang terpercaya pula, walaupun dari sisi ilmu makharijul huruf dan tajwidnya belum bisa memahaminya (karena masih terlalu kecil untuk diberi pemahaman secara teori yang lengkap)
  3. Jika telah dewasa nanti, anak-anak kita tidak akan sulit untuk mempelajari ilmunya dan sekaligus pendalaman Al Qur’an, baik dengan cara menjadi penghafal Al Qur’an maupun mencari bacaan bersanad. Sebab secara praktek bacaan Al Qur’annya telah sesuai dengan kaidah membaca Al Qur’an.
  4. Jika anak kita tumbuh dewasa dan terbimbing dengan baik serta memiliki bacaan Al Qur’an yang baik, benar dan bagus, maka dirinya pantas untuk menjadi pemimpin ummat. Sebab dalam siroh Rasulullah Saw, Rasulullah Saw., senantiasa memprioritaskan penempatan pimpinan atau amir mendasarkan pada siapa yang paling memahami dan paling banyak hafalan Al Qur’annya, bukan yang paling tua ataupun yang paling berjasa.
  5. Jika gerakkan mempercayakan bacaan Al Qur’an anak kita pada pengajar Al Qur’an yang terpercaya ini menjadi gerakan ummat, bukan tidak mungkin kedepannya nanti,  kita tak akan menemukkan lagi Imam masjid yang pada saat menjadi imam sering salah dalam membaca Al Qur’an, atau orang tua yang masih saja belajar tahsin atau baru belajar membaca Al Qur’an.
         Barangkali yang jadi pertanyaan kita adalah sulitkah mencari pengajar Al Qur’an yang terpercaya hari ini ?Jawabannya sederhana yakni tidak. Jika kita telusuri betul di tengah-tengah ummat, banyak diantara kaum muslimin yang memiliki bacaan Al Qur’an yang baik dan benar serta memiliki kemampuan menjadi pengajar Al Qur’an yang handal, tinggal kita asah kemampuan dan kita kembangkan potesinya, niscaya akan terlahir pengajar Al Qur’an yang terpercaya dan berkualitas. Masalahnya adalah seberapa besar perhatian kita, khususnya masjid kita hari ini terhadap pentingnya pengajar Al Qur’an yang terpercaya dan berkualitas ? Jika tidak ada perhatian rasanya sulit untuk bisa mengoptimalkan potensi ummat hari ini, terlebih lagi yang berpotensi menjadi tenaga pengajar Al Qur’an yang terpercaya dan berkualitas.
       Minimnya perhatian masjid hari ini terhadap pengajaran Al Qur’an di TPA/TPQ dapat kita lihat sebagaimana penjelasan yang saya utarakan, yakni di lingkungan yang tidak jauh dari tempatku tinggal ada masjid yang dana kas masjidnya (yang hanya terpampang di papan masjid) mencapai hampir Rp. 30.000.000,00. Di masjid tersebut berdiri pula TPA/TPQ dengan jumlah santri/wati mencapai 40 anak, yang ditangani oleh 4 ustadz/ah. Dengan dana yang kas masjid yang sangat melimpah tersebut ternyata masjid hanya berani memberikan subsidi pada TPA/TPQ kira-kira sebesar Rp. 150.000,00/bulan ( belum lagi minta-minta jama’ah untuk jadi donator TPA/TPQ nya, padahal dana melimpah).
         Maka, jika diprosentase antara dana kas masjid dengan subsidi yang diberikan masjid untuk TPA/TPQ, maka dana untuk TPA/TPQ kira-kira hanya sebesar 0,003 % nya dana kas masjid yang melimpah tersebut, sedangkan dana kas yang ada hanya ditulis dipapan pengumuman masjid, sampai terkadang kita merasa bosan melihat tulisan kas masjid yang terpampang, sebenarnya untuk apa sih dana sebesar itu ? Di salurkan tidak, malah TPA/TPQ masih mencari donator dari jama’ahnya …..wah kasihan betul TPA/TPQ.
        Jika, realita sebagaimana yang saya contohkan diatas terjadi hampir di masjid kita hari ini, maka anda bisa bayangkan bagaimana masa depan pengajar Al Qur’an anak-anak kita nantinya. Jangkankan mencari pengajar Al Qur’an yang terpercaya, mencari orang yang sekedar mau menjadi pengajar Al Qur’an atau TPA/TPQ aja akan sangat sulit kita temukan. Kemudian menjalankan TPA/TPQ pun menggunakan manajemen asal jalan. Kalau sudah demikian siapa yang paling bertanggungjawab ? Untuk menjawab pertanyaan ini, seyogyanyalah pembaca bertanya pada pengurus masjid hari ini…..kenapa dana kas masjid hanya diendapkan saja, sementara pengajaran Al Qur’an untuk anak-anak kita hanya mendapatkan bagian yang sedikit ?
      Inilah salah satu akibatnya jika masjid dikelola orang-orang yang kurang peduli dengan pengajaran Al Qur’an anak-anak kita hari ini……….penulis hanya bisa berharap semoga akan segera hadir pengurus masjid yang peduli dengan pengajaran Al Qur’an untuk anak-anak kaum muslimin…….

oh..TPAku sayang....

Ustad-ustadzah yang dirahmati Allah, fenomena yang sering kita temui dalam kegiatan perTPA-an adalah semakin sedikitnya jumlah santri atau semakin sedikitnya SDM yang mengelola TPA atau bahkan dua duanya, sehingga membuat TPA seperti lampu yang kehabisan minyak. Jika kita mau sebentar menengok sebab apakah yang membuat hal ini terjadi maka kita akan kembali kepada kaidah kebaikan yang tidak tertata akan dikalahkan oleh keburukan yang tertata, ya fakta itulah yang sekarang ini terjadi pada TPA kita, mari sejenak kita coba analisis beberapa hal yang menjadi penyebabnya.

Dua sisi dakwah
Ustad-ustadzah yang dimuliakan Allah, telah kita ketahui makna dari adda’wah adalah mengajak, menyeru atau secara istilah adalah menyeru kepada manusia sampai mereka terpengaruh dengan apa yang kita bawa. Jadi dalam makna adda’wah ternyata penjelasan berupa kalimat terbuka, yaitu pada kalimat apa yang kita bawa, kalimat itu menunjukkan bahwa menyeru kepada manusia tidak hanya kebaikan saja yang melakukan tetapi kemaksiatan juga menyeru kepada manusia agar mereka menjauhi Islam dan mengikuti kemaksiatan. Na’udzubillahi min dzaalika, ini yang sering kita terlena dan lupa bahwa musuh kita adalah orang-orang yang menghalangi manusia kepada Islam dengan berbagai cara.

Ikhwah fillah…
Seruan terhadap kemaksiatan yang dilancarkan oleh para da’inya ternyata lebih dahsyat dan tertata sangat rapi sehingga sampai detik ini kema’siatan masih saja lebih menarik dari pada kebajikan, club malam masih lebih menarik dari pada masjid dan konser musik lebih dahsyat dan menarik dari pada pengajian pengajian dan halaqoh. Bahkan seruan yang dilancarkan oleh kema’siatan mempengaruhi bukan hanya pada obyek (baca = anak anak dan remaja) tetapi juga orang disekitarnya (baca = orang tua), islamophobia mulai menyerang mereka, ketakutan jika anak anak mereka mulai menunjukan penampilan yang islami, bahkan sebagian institusi (baca = sekolah) belum juga mengijinkan pendampingan agama islam (PAI) yang diselenggarakan oleh Alumni untuk masuk ke sekolah, dengan alasan kekhawatiran terjebak dalam aliran sesat, tetapi sayangnya mereka (sekolah) tidak pernah mengkhawatirkan siswa mereka ikut dalam konser konser musik, foya foya, dan sebagainya. Sehingga islam seolah oilah menjadi musuh yang pantas dicurigai.

Standar baik buruk yang tidak paten
Ikhwah fillah…
Yang kedua selain keterlambatan kita mengetahui serangan pemikiran seperti disebut di atas, ternyata dalam masyarakat kita mempunyai standar baik buruk yang tidak paten. Seorang pemudi akan dianggap bermasalah jika sudah cukup umur tetapi belum ada pemuda yang main ke rumah, anak dikatakan hebat jika bias juara 1 disekolah walaupun tidak sholat, seorang ustad dikatakan bagus dalam mengisi pengajian asalkan lucu walaupun isi pengajiannya tidak ada hujjahnya, seorang pemuda akan dianggap bagus jika pendidikan formalnya tinggi walaupun tidak bisa membaca Al Qur’an.
Ustad-ustadzah pernah mencoba bersandar pada kursi kemudian tiba tiba kursi itu ditarik? Apa yang terjadi?... betul kita akan tersentak dan akhirnya terjatuh. Persis seperti itu jika kita menyandarkan sesuatu kepada yang tidak paten, standar yang paten hanyalah Al qur’an dan Assunnah yang sampai hari kiamat tidak akan pernah berubah.
Harusnya standar baik buruk yang ada dalam masyarakat sesuai dengan Al Qur’an dan Assunnah sehingga tidak akan ada lagi ungkapan “sik penting anakku juara, arepo ra melu TPA”

Mereka juga membelanjakan harta untuk menghalagi manusia dalam Islam
Muhammad Ibnu Ishaq melalul AI Zuhri berkata: "Setelah orang-orang kafir quraish kalah dalam peperangan Badr, mereka pulang dan terus merancang untuk menyerang kembali orang-orang Islam. Mereka berjumpa dengan Abu Sufyan yang telah dapat melepaskan dirinya dan harta dagangannya dari serangan tentera-tentera Islam. Mereka lalu menceritakan pada Abu Sufyan bahawa banyak di antara mereka kehilangan anak, ayah dan saudara dalam peperangan Badr. Mereka berkata pada hartawan dan pedagang quraish itu: "Sesungguhnya Muhammad telah ganjilkan kita. Jadi bantulah kami dengan harta kamu, mungkin kali ini kita akan dapat menebus kekalahan (di Badr). Lalu merekapun menyerahkan harta mereka untuk tujuan mereka itu ... "
Peristiwa di atas adalah asbabunuzul surat al anfal ayat 36

Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, Kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,
Sikap seperti ini adalah satu cara tradisi bagi setiap musuh-musuh Islam, semasa dahulu maupun sekarang ini, malah sampailah pada hari akhirat. Inilah satu sunnatullah yang mesti difahami oleh setiap orang yang beriman dan yang berusaha untuk melaksanakan Islam dalam masyarakatnya. Sebagaimana seperti yang berlaku dahulu, mereka orang-orang kafir ini, akan berusaha secara tolong menolong dengan harta dan tenaga mereka untuk menyekat kebenaran dakwah Islamiah, bahkan kebenaran Islam, Deen Allah SWT yang syumul dan lengkap.
Sejak awal dakwah, orang-orang kafir selalu menghalang-halangi dakwah secara bergotong royong, bekerja sama satu sama lain, seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq: "..dan merekapun berkata pada Rasulullah SAW, "Sekiranya kamu mau harta, maka kami akan kumpulkan harta-harta itu, dan menjadikan kamu orang yang paling kaya di antara kami, dan sekiranya kamu inginkan kemuliaan, maka karni akan melantik kamu menjadi ketua dan penguasa ke atas kami, dan kami tidak akan mengambil sebarang keputusan tanpa keizinanmu......

Solusi yang solutif
Membuat TPA lebih menarik dari pada acara TV
Menunjukan kepada masyarakat bahwa santri TPA bagus dalam prestasi akademik

Jadilah da’I yang kaya
Dengan menjadi da’I yang kaya maka kita tidak akan lagi merasa berat untuk menafkahkan harta kita dan lebih membawa kita untuk mudah dalam menjalanmkan amanah dakwah karena kita bias menyingkirkan 1 masalah dakwah yaitu alas an tidak terlibat dalam aktifitas dakwah kjarena pekerjaan atau mengejar maisyah.

Bersungguh sungguh dalam menegakkan Islam
Orang-orang yang beriman, yang melalui proses didikan di bawah Madrasah Rasulullah SAW mereka faham yang halangan-halangan in adalah satu sunnatullah, yang sudah semestinya mereka hadapi dengan penuh kesabaran. Orang-orang yang beriman, mereka faham yang mereka juga mesti berada bersama-sama dalam satu Jamaah, dan berjihad dengan segala apa yang ada pada diri mereka, sama ada dengan harta, tenaga dan jiwa raga mereka. Bagi mereka tidak ada hudnah dalam menyebarkan Fikrah Islamiyah, yaitu dalam erti kata tetap melaksanakan Islam dan beriman dengan Allah SWT dalam setiap suasana yang mereka hadapi. Sabda Rasulullah SAW yyang bermaksud;
"Jihad tidak akan berhenti sehingga ke hari kiamat. "
Orang-orang kafir, mereka tidak akan berhenti daripada usaha mereka itu, dan tidak akan membiarkan orang-orang beriman bersenang-senang. Oleh itu kita mestilah menyusun dan merancang kerja-kerja kita untuk menentang jahiliyah. Adalah satu sunnatullah, sekiranya kita ingin menentang jahiliyah maka mestilah dalam satu usaha yang tersusun rapi. Berada dalam satu Harakah Islam yang mempunyai satu sistem tarbiyah yang benar, dan berkembang dengan cara yang benar juga. Bukan berkembang dengan cara yang tidak masyruk.
Orang-orang beriman sadarbahwa jahiliyah itu lemah, karena ia tidak ada kekuatan mutlak. la hanya bergantung pada ketua-ketua dan kekuatan kebendaan saja. Namun bagi orang-orang beriman senjata mereka adalah di tangan Allah SWT. Kata as-Syahid Syed Qutb: "Kamu adalah lebih tinggi, oleh itu jangan kamu merasa lemah dan rendah lantas meminta damai (dengan jahiliyah). Kamu adalah lebih tinggi dari segi aqidah dan konsepsi hidup. Kamu adalah lebih tinggi dari segi ikatan penghubung dengan Tuhan yang Maha Tinggi dan Agung... kamu adalah lebih tinggi dari segi kekuatan, keteguhan dan kemenangan kerana kekuatan Yang Teragung adalah bersama-sama kamu. Kamu tidak bersendirian, tetapi kamu adalah didampingi oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Berkuasa.....".

mengapa sekarang lagu anak-anak kurang populer??

Dewasa ini, banyak kita jumpai anak-anak yang senang menyanyikan lagu orang dewasa. Dimana kebanyakan tema lagu-lagu tersebut menceritakan tentang percintaaan, perselingkuhan, kebencian dan beberapa tema lain yang tidak layak dikonsumsi oleh anak-anak.
Tetapi sungguh sangat disayangkan bila masih terdapat orang tua yang menganggap kebiasaan anak-anak yang menyanyikan lagu dewasa sebagai hal lelucon atau indikasi tingkat kepintaran anak yang semakin meningkat. Sebab secara tidak langsung, lagu tersebut memberi dampak negatif bagi pola pikir, kepribadian dan perkembangan anak.
Fenomena ini terjadi bukan hanya disebabkan oleh kurangnya pengawasan orang tua, tetapi juga beberapa hal yang lain, seperti dampak dari industri musik di Indonesia. Banyak para produser musik menganggap lagu anak kurang populer dibandingkan lagu orang dewasa. Sehingga dari segi pendapatan, mereka lebih tertarik untuk memproduksi lagu orang dewasa. Hal ini dibuktikan dengan sedikitnya lagu anak terbaru dibanding lagu-lagu orang dewasa.
Berikut merupakan beberapa hal yang dapat menyebabkan lagu anak kurang populer pada akhir-akhir ini:
  1. Penurunan tingkat pemintaan masyarakat terhadap lagu anak-anak. Hal ini terjadi dikarenakan adanya media hiburan yang dapat menyita waktu anak-anak, seperti video film kartun hingga video game dan banyaknya permainan edukatif.
  2. Adanya penurunan kualitas lagu anak. Hal ini dapat dibuktikan dengan munculnya beberapa lagu anak terbaru yang memiliki kualitas jauh lebih rendah dari pada lagu-lagu anak era 90-an. Kebanyakan lagu anak memiliki nada,tempo dan lirik yang kurang disukai oleh anak-anak.
  3. Lagu anak sering dinyanyikan oleh penyanyi cilik yang kurang memiliki kemampuan bernyanyi. Sebagian besar alasan mereka bernyanyi untuk meningkatkan popularitas orang tua. Padahal penyanyi cilik berbakat dapat diperoleh dengan cara melakukan festival bernyanyi lagu anak di setiap daerah atau kontes menyanyi yang banyak dilakukan oleh stasiun televisi di Indonesia.
  4. Peranan orang tua yang kurang mengawasi anak mereka dalam memilih lagu yang pantas dikonsumsi oleh anak. Tingginya tingkat kesibukan sering menjadi alasan mengapa orang tua kurang memiliki waktu untuk membimbing anaknya dalam menentukan lagu yang pantas mereka dengarkan.

kemana lagi anak anda akan belajar al-qur'an

Orang tua mana yang tidak bangga jika kita memiliki anak sholeh/ah yang taat pada Allah dan berbakti pada kedua orang tuanya. Tapi sayangnya mendidik anak agar menjadi anak sholeh/ah bukan pekerjaan mudah bagi orang tua saat ini. Para orang tua dituntut untuk mencurahkan perhatian dan pengorbanannya demi si buah hati tercinta.
        Lahirnya seorang anak sholeh/ah bukan tiba-tiba saja muncul, tapi perlu ada pendidikan dan penanaman sejak usia dini. Ibarat tumbuhan, seorang anak perlu dirawat dan dijaga dengan baik. Semakin baik perawatan kita tentu akan semakin baik pula hasilnya. Salah satu yang seharusnya ditanamkan oleh para orang tua, sebagai bentuk penjagaan adalah bekal-bekal Al Qur’an. Al Qur’an adalah bekal utama yang tidak boleh ditinggalkan oleh para orang tua saat ini. Tanpa bekal Al Qur’an mustahil kita akan mampu mendidik anak kita menjadi anak yang sholeh/ah, sebab Islam memandang bahwa faktor yang menentukan seorang anak dikatakan sholeh/ah, dirinya memiliki bekal Al Qur’an. 
          Hari ini, kita banyak jumpai anak muslim di kampung-kampung yang tidak memiliki bekal Al Qur’an. Tidak adanya bekal Al Qur’an tersebut kebanyakan bukan karena anaknya malas untuk belajar atau karena orang tua yang enggan membekali anaknya, tapi lebih pada tidak adanya tempat untuk bisa membekali Al Qur’an (semacam TPA/TPQ). Hari ini TPA/TPQ masih tetap menjadi harapan dan tumpuan oleh kebanyakkan para orang tua saat ini khususnya yang minim ilmu dan harta. Hari ini TPA/TPQ di masjid kampung dinantikan dan diharapkan kiprahnya oleh mayoritas jama’ah dan masyarakat sekitar masjid. Akan tetapi, sekalipun TPA/TPQ di masjid kampung sangat urgen untuk membekali Al Qur’an bagi anak-anak saat ini, sayangnya tidak semua orang tua menaruh harapan terhadap TPA/TPQ. Biasanya orang tua yang cukup ilmu dan mapan hidupnya (tingkat sosial menengah ke atas), tidak terlalu mengharapkan TPA/TPQ untuk membekali anak-anak mereka dengan Al Qur’an, mungkin mereka berpandangan bahwa bekal Al Qur’an masih bisa diberikan pada anak-anak mereka dengan cara dipondokpesantrenkan atau di sekolah fullday schoolkan (yang sudah meliputi bekal Al Qur’an), walaupun harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Dan kebetulan sekali, para orang tua yang tidak terlalu berharap pada TPA/TPQ justru kebanyakan didominasi kalangan pengurus masjid hari ini. Jika anda tidak percaya, coba anda cermati dengan baik, rata-rata pengurus masjid adalah orang yang secara ekonomi telah mapan, kemudian jika di lihat dari pendidikan anak-anak/keturunannya, kebanyakan mereka tidak tergantung dengan TPA/TPQ. Yang jadi pertanyaan adalah, mungkinkah jika orang yang tidak terlalu berharapan terhadap TPA’TPQ (sebagai sarana untuk membekali Al Qur’an untuk anak-anak) bisa peduli dan memperjuangkan nasib TPA/TPQ dengan baik dan sungguh-sungguh? Jawabannya sudah pasti tidak mungkin. Pembaca sekalian, inilah barangkali sebabnya mengapa TPA/TPQ tidak bisa berjalan dengan baik di masjid kita hari ini.Dan seakan-akan tidak ada kesungguhan untuk menghidupkan dan menjalankan TPA/TPQ kembali dengan baik dan profesional.
          Maka dari itu, jika masjid peduli dengan kepentingan jama’ah atau masyarakat muslim di sekitar masjid (yang mengalami kesulitan dalam memberikan bekal pengajaran Al Qur’an pada anak-anak mereka) tentu pengurus masjid akan memberikan perhatian lebih pada TPA/TPQ hari ini, bahkan jika perlu berkorban apapun asal TPA/TPQ bisa berjalan dengan baik, sehingga jama’ah merasakan manfaatnya, khususnya pada anak-anak mereka. Mari coba kita renungkan baik-baik, jika kita selaku orang tua begitu bersemangatnya beribadah di masjid (untuk mencari bekal akhirat), kita begitu rajin infaq ditiap jum’atan (walau kebanyakan hanya sekedar dikumpulkan saja), kita begitu peduli dengan berbagai kegiatan masjid. Tapi perlu anda ingat, bahwa semua itu kembali pada diri anda selaku pribadi muslim/orang tua. Lalu, mana yang kembali kepada anak-anak anda, walau hanya dalam wujud pengajaran Al Qur’an (di TPA/TPQ)? Sementara anda tidak mampu mengajarkan Al Qur’an sendiri ?
        Wal hasil, inilah kenyataannya jika masjid tidak peduli dengan TPA/TPQ, anak-anak di sekitar masjid tidak mendapatkan manfaat dari masjidnya, kalaupun ada pengajaran Al Qur’an biasanya hanya di bulan Ramadhan semata. Yang jadi pertanyaan kita kembali, apa mungkin mendidik anak-anak kita dengan Al Qur’an hanya mengandalkan bulan Ramadhan ?
         Maka, jika ada masjid yang TPA/TPQ nya saja tidak berjalan, atau berjalan tapi asal jalan semata, hal ini menunjukkan kegagalan pengurus masjidnya, tapi sayangnya pengurus masjid hari ini banyak yang merasa tidak pernah gagal menjadi pengurus masjid. orang tuanya. Tapi sayangnya mendidik anak agar menjadi anak sholeh/ah bukan pekerjaan mudah bagi orang tua saat ini. Para orang tua dituntut untuk mencurahkan perhatian dan pengorbanannya demi si buah hati tercinta. Lahirnya seorang anak sholeh/ah bukan tiba-tiba saja muncul, tapi perlu ada pendidikan dan penanaman sejak usia dini. Ibarat tumbuhan, seorang anak perlu dirawat dan dijaga dengan baik. Semakin baik perawatan kita tentu akan semakin baik pula hasilnya. Salah satu yang seharusnya ditanamkan oleh para orang tua, sebagai bentuk penjagaan adalah bekal-bekal Al Qur’an. Al Qur’an adalah bekal utama yang tidak boleh ditinggalkan oleh para orang tua saat ini. Tanpa bekal Al Qur’an mustahil kita akan mampu mendidik anak kita menjadi anak yang sholeh/ah, sebab Islam memandang bahwa faktor yang menentukan seorang anak dikatakan sholeh/ah, dirinya memiliki bekal Al Qur’an. 
          Hari ini, kita banyak jumpai anak muslim di kampung-kampung yang tidak memiliki bekal Al Qur’an. Tidak adanya bekal Al Qur’an tersebut kebanyakan bukan karena anaknya malas untuk belajar atau karena orang tua yang enggan membekali anaknya, tapi lebih pada tidak adanya tempat untuk bisa membekali Al Qur’an (semacam TPA/TPQ). Hari ini TPA/TPQ masih tetap menjadi harapan dan tumpuan oleh kebanyakkan para orang tua saat ini khususnya yang minim ilmu dan harta. Hari ini TPA/TPQ di masjid kampung dinantikan dan diharapkan kiprahnya oleh mayoritas jama’ah dan masyarakat sekitar masjid. Akan tetapi, sekalipun TPA/TPQ di masjid kampung sangat urgen untuk membekali Al Qur’an bagi anak-anak saat ini, sayangnya tidak semua orang tua menaruh harapan terhadap TPA/TPQ. Biasanya orang tua yang cukup ilmu dan mapan hidupnya (tingkat sosial menengah ke atas), tidak terlalu mengharapkan TPA/TPQ untuk membekali anak-anak mereka dengan Al Qur’an, mungkin mereka berpandangan bahwa bekal Al Qur’an masih bisa diberikan pada anak-anak mereka dengan cara dipondokpesantrenkan atau di sekolah fullday schoolkan (yang sudah meliputi bekal Al Qur’an), walaupun harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Dan kebetulan sekali, para orang tua yang tidak terlalu berharap pada TPA/TPQ justru kebanyakan didominasi kalangan pengurus masjid hari ini. Jika anda tidak percaya, coba anda cermati dengan baik, rata-rata pengurus masjid adalah orang yang secara ekonomi telah mapan, kemudian jika di lihat dari pendidikan anak-anak/keturunannya, kebanyakan mereka tidak tergantung dengan TPA/TPQ. Yang jadi pertanyaan adalah, mungkinkah jika orang yang tidak terlalu berharapan terhadap TPA’TPQ (sebagai sarana untuk membekali Al Qur’an untuk anak-anak) bisa peduli dan memperjuangkan nasib TPA/TPQ dengan baik dan sungguh-sungguh? Jawabannya sudah pasti tidak mungkin.
          Pembaca sekalian, inilah barangkali sebabnya mengapa TPA/TPQ tidak bisa berjalan dengan baik di masjid kita hari ini.Dan seakan-akan tidak ada kesungguhan untuk menghidupkan dan menjalankan TPA/TPQ kembali dengan baik dan profesional. Maka dari itu, jika masjid peduli dengan kepentingan jama’ah atau masyarakat muslim di sekitar masjid (yang mengalami kesulitan dalam memberikan bekal pengajaran Al Qur’an pada anak-anak mereka) tentu pengurus masjid akan memberikan perhatian lebih pada TPA/TPQ hari ini, bahkan jika perlu berkorban apapun asal TPA/TPQ bisa berjalan dengan baik, sehingga jama’ah merasakan manfaatnya, khususnya pada anak-anak mereka.        
        Mari coba kita renungkan baik-baik, jika kita selaku orang tua begitu bersemangatnya beribadah di masjid (untuk mencari bekal akhirat), kita begitu rajin infaq ditiap jum’atan (walau kebanyakan hanya sekedar dikumpulkan saja), kita begitu peduli dengan berbagai kegiatan masjid. Tapi perlu anda ingat, bahwa semua itu kembali pada diri anda selaku pribadi muslim/orang tua. Lalu, mana yang kembali kepada anak-anak anda, walau hanya dalam wujud pengajaran Al Qur’an (di TPA/TPQ)? Sementara anda tidak mampu mengajarkan Al Qur’an sendiri ? Wal hasil, inilah kenyataannya jika masjid tidak peduli dengan TPA/TPQ, anak-anak di sekitar masjid tidak mendapatkan manfaat dari masjidnya, kalaupun ada pengajaran Al Qur’an biasanya hanya di bulan Ramadhan semata.
       Yang jadi pertanyaan kita kembali, apa mungkin mendidik anak-anak kita dengan Al Qur’an hanya mengandalkan bulan Ramadhan ? Maka, jika ada masjid yang TPA/TPQ nya saja tidak berjalan, atau berjalan tapi asal jalan semata, hal ini menunjukkan kegagalan pengurus masjidnya, tapi sayangnya pengurus masjid hari ini banyak yang merasa tidak pernah gagal menjadi pengurus masjid.